Tadi iseng membaca berita Liputan 6 dan menemukan berita yang aneh tapi nyata. Benar-benar merupakan sebuah petuah bijak dari sang Menko Kesra Aburizal Bakrie. Jenis dagelan ajaib yang sudah lazim dan di lontarkan oleh para petinggi negeri aneh ini. Seperti juga ketika televisi menayangkan gambar pemimpin Jakarta yang sedang menelepon dengan memakai handphone di truk untuk meminta izin membuka pintu air Manggarai yang menuju ke arah Istana. Padahal sudah jelas, banjir adalah kondisi darurat dan air sudah semakin menggenangi rumah rakyat, pemilik negeri ini.

Sekedar info aja pak, kakak saya yang terkena musibah banjir tidak tersenyum sama sekali. Demikian juga suami dan ketiga anaknya. Saya dan keluarga juga tidak bisa tersenyum sama sekali karena memikirkan nasib beliau. Teman sekantor saya yang tinggal di Kodamar dan sedang mengungsi di rumah saudaranya juga tidak tersenyum pak. Kalau mengutip istilah Kampung Gajah: “Malu kamu, Malu!!!”

Meskipun berita dari koran dan televisi menyebutkan masih terdapat genangan di Jl. Yos Sudarso, saya memutuskan untuk tetap berangkat ke kantor. Saya pun mengikuti motor-motor yang memasuki gerbang tol Rawasari dan bermaksud untuk turun di pintu keluar Sunter.

Jalan tol sendiri sangat macet. Semua kendaraan merayap perlahan. Bahu jalan digunakan dua arah oleh motor. Saat itu sudah terbayang sebenarnya apa yang akan terjadi di pintu keluar Sunter, tetapi saya harus terus mencoba menuju ke sana.
Read more

Setelah mencermati berbagai berita baik lewat surat kabar, radio maupun bertanya kepada beberapa teman, hari ini saya memutuskan untuk tidak berangkat ke kantor.

Ketika pagi hari berjalan-jalan ke Pasar Palmeriam, saluran di dekat rumah tampak berwarna cokelat, mengalir deras dan tingginya sudah hampir mencapai bagian bawah jembatan.

Hal ini disebabkan karena dibukanya pintu air untuk membantu mengalirkan air sungai Ciliwung yang sedang meluap dahsyat di sebelah timur Matraman.

Read more

Seperti yang telah saya tuliskan di postingan kemarin, rumah kakak saya yang terletak di Makasar, terendam banjir sampai setinggi lebih dari 3 meter dengan keluarga kakak yang terdiri dari suami istri dan 3 orang anak terjebak di rumahnya. Koordinasi dengan rumah Ibu yang juga terletak di Makasar sulit dilakukan karena mulai sulitnya komunikasi.

Informasi yang didapat dari kakak saya, tim SAR kesulitan untuk menjangkau daerah itu karena terletak di gang selebar dua setengah meter yang sulit untuk dimasuki perahu karet. Arus yang melewati gang depan rumah pun deras sekali. Kami pun memutuskan bahwa evakuasi harus dilakukan. Karena kami semua khawatir akan keselamatan keluarga kakak terutama kepada keselamatan ketiga orang keponakan. Juga karena logistik yang mereka punya terbatas dan akses bantuan pun sulit dilakukan. Dengan pertimbangan bahwa banjir masih besar, arus makin deras, maka evakuasi pun diputuskan akan dilakukan siang hari ini dengan mengharapkan surutnya air.
Read more

Next Page →