May
17
Kali ini yang kiri
Filed Under Catatan Perjalanan, Personal | 1 Comment
Baru dua bulan berlalu sejak kecelakaan itu, tanggal 10 kemarin saya kembali mengalami musibah terjatuh dari motor. TKP beralih dari Jl. Gatot Soebroto ke Jl. Matraman Raya persis di depan Hotel Grand Menteng. Musibah ini sendiri terjadi tepat seminggu yang lalu. Mungkin memang basbang, tapi ini aja nulisnya cuma dengan tangan kanan. Heheheh… aduh…
Kecelakaan ini terjadi pada waktu malam sepulang dari kuliah. Dalam kondisi lelah dan konsentrasi yang menurun, saya mulai berkendara pulang dengan kecepatan lambat. Di saat memasuki perempatan Matraman, lampu lalu lintas masih menyala hijau. Saya dan beberapa mobil menjadi rombongan yang terakhir sebelum lampu lalu lintas berganti merah. Menjelang masuk jalur lambat, saya mengurungkan niat untuk pindah jalur dan memutuskan tetap di jalur cepat sampai perpindahan jalur berikutnya di depan bengkel AHASS karena di situ banyak taksi yang sedang parkir menunggu penumpang hotel dan juga dua mikrolet M01 yang menutupi jalur lambat.
Di saat berada di jalur cepat itu - entah mengapa - mata saya seperti melihat bahwa perpindahan jalur masih ada. Otomatis otak yang sudah lelah memerintahkan saya untuk pindah jalur. Setelah dekat dengan pembatas, saya baru sadar bahwa perpindahan itu sudah habis. Saya mencoba mengerem tetapi sudah terlambat dan setelah ban depan membelai pembatas, saya dan motor pun jatuh.
Diiringi teriakan “Aauuwww.. ada yang jatuh.. ada yang jatuh..” dari beberapa wanita yang sedang berdiri di depan hotel dan dibantu oleh seseorang, saya pun meminggirkan motor. Sempat memeriksa kondisi badan dan keadaan, tiba-tiba penglihatan saya makin kabur dan gelap. Setelah berhasil menghubungi rumah, saya pun diantar oleh orang yang menolong tadi pulang. Di perjalanan pulang itu perut mata saya makin gelap dan hanya melihat cahaya berpendar. Perut pun berasa semakin mual. Dalam hati saya berpikir “Mungkin ini yang namanya mau pingsan ya….”. Perut yang semakin mual membuat saya was-was karena takut bila saya sampai muntah dan mengenai orang yang sudah berbaik hati mengantar pulang.
Sesampai di rumah, istri saya mengenali orang yang mengantar saya pulang. Ternyata beliau adalah tetangga saya satu gang yang berprofesi sebagai tukang ojek dan pada saat kecelakaan terjadi baru sampai di depan hotel untuk mulai mencari penumpang. Saya sendiri saat itu masih belum bisa melihat jelas mukanya. Kami hanya bisa mengucapkan kata terima kasih yang amat banyak kepadanya karena dia menolak dengan halus pemberian dari istri saya. Dia bilang
“Saya ikhlas ngebantu kok, apalagi kita masih tetanggaan satu gang. Kebetulan aja pas bapak kecelakaan, saya baru aja mau mulai ngojek. Untungnya dia bawa motornya pelan, jadi jatuhnya gak sampe terseret dan motornya masih enak nih dibawanya.”.
Keesokan harinya, saya pergi ke Rumah Sakit Persahabatan untuk di berikan penyangga dari kayu di bagian sisi luar tangan kiri sampai ke ujung kelingking. Dari hasil röntgen terlihat bahwa ruas tengah jari kelingking saya patah dan sisi luar telapak tangan kiri retak. Saya pun terpaksa tidak masuk kerja lagi untuk beberapa lama.
Catatan kecil:
Menurut kabar yang beredar, konon di daerah sekitar tempat kecelakaan itu ada setannya. Dia suka berpindah-pindah. Kadang di jalur ke arah Utara, kadang di jalur sebaliknya. Menurut bang Andi, kecelakaan terakhir terjadi dua hari sebelum saya, yaitu dua kecelakaan sekaligus dalam satu malam. Yang pertama terjadi sekitar sekitar pukul sepuluh malam dengan korban seorang perempuan. Motornya rusak dan dia pingsan. Setelah itu sekitar setengah dua belas terjadi lagi kecelakaan kedua dengan hasil motor rusak dan pengendaranya luka-luka.
Saya tidak percaya bahwa kecelakaan itu disebabkan karena setan yang mengganggu, tetapi saya percaya bahwa kecelakaan adalah musibah dan teguran dari Tuhan. Kecelakaan bisa terjadi karena apa saja. Mengantuk, hilang konsentrasi, terlalu ngebut dan ban pecah mungkin adalah beberapa diantaranya.
Feb
28
Musibah di pagi hari
Filed Under Catatan Perjalanan, Personal | 1 Comment
Kemarin pagi beberapa saat setelah saya mengantar nyonyah ke BP-MIGAS di gedung Patra Jasa di Jl. Gatot Soebroto, saya mendapat kecelakaan yang menyebabkan jari kelingking kanan saya retak.
Setelah istri saya memasuki lobi, saya yang akan melanjutkan perjalanan mulai berjalan dengan pelan. Kemudian dari arah kanan datang sebuah taksi yang langsung mengambil jalur saya untuk menurunkan penumpangnya di lobi yang sama. Otomatis saat itu saya mengambil sisi kanan dari taksi tersebut. Di saat bersisian, tiba-tiba saya merasakan motor saya tersentak, miring ke arah kanan dan langsung terjatuh.
Setelah bangun dan mendirikan motor, saya melihat pintu kanan belakang taksi yang terbuka, didalamnya seorang bapak yang sudah beruban menatap dengan pandangan terkejut, pandangan yang sama seperti yang diperlihatkan oleh supir taksi. Penumpang itu lalu bergegas menghampiri dan menanyakan keadaan saya sambil meminta maaf dan mengakui bahwa kecelakaan itu adalah kesalahan dia karena dia membuka pintu kanan dan membukanya tanpa melihat keadaan terlebih dahulu.
Setelah memeriksa kondisi sendiri dan menerima permintaan maafnya (kasihan bapak itu sudah tua dan mukanya memerah, kuatir juga kalau tiba-tiba bapak itu jatuh sakit) melanjutkan perjalanan. Namun sesampainya di daerah Hero Gatot Soebroto, mendadak jari kelingking kanan saya terasa sakit sekali. Sempat berhenti di parkiran belakang Hero, menghubungi kantor dan rumah sebelum memutuskan untuk pulang ke rumah Halim. Perjalanan akhirnya diteruskan dengan kondisi tidak nyaman. Sesampai di Halim, segera periksa dulu ke Rumah Sakit Pusdikkes untuk di röntgen, ternyata kelingking kanan saya retak.
Ini adalah kecelakaan motor saya yang pertama sejak beberapa tahun silam. Sejak mulai mengendarai sepeda motor tahun 1992, alhamdulillah baru merasakan 3 kali kecelakaan termasuk yang sekarang. Kecelakaan pertama terjadi di tahun 1993 ketika saya yang sedang membonceng “terbang” dari motor yang menabrak trotoar di Jl. Kalisari, Cijantung sepulang dari sekolah. Saya mencium pot bunga dan mendapat kenang-kenangan berupa dagu yang bocor, sementara teman saya luka-luka mencium tanah. Kecelakaan kedua terjadi di tahun 1999 ketika saya dan teman terjatuh di daerah Pinang Ranti. Beruntung ketika itu kita hanya mendapat luka ringan. Semoga kecelakaan kemarin itu adalah kecelakaan terakhir yang saya alami.
Tadinya saya mau menulis kejadian ini kemarin malam (dasar blogger!â„¢), cuma berhubung kondisi tangan yang masih sakit saya baru menuliskannya sekarang.
meringis